Syaiful-ali's Blog

berbagi informasi dan pengetahuan

Evolusi pemikiran Corporate Governance

Tinggalkan komentar

Corporate governance sebagai suatu prinsip praktik bisnis telah ada sejak pertama kali bisnis ada dalam sejarah peradaban manusia. Jadi corporate governance itu adalah bukan hal yang sama sekali  baru.

Hanya saja sejarah bisnis mencatat adanya perbedaan fokus pelaku bisnis. Di abad ke-19, fokus pelaku bisnis adalah bagaimana mendirikan bisnis/industry yang baru. Jiwa entrepreneur sangat pekat pada abad ini. Di abad berikutnya, abad ke-20, fokus lebih diarahkan pada manajemen. Bagaimana mengelola perusahaan dari aspek keuangan, pemasaran dan operasi.

Di abad sekarang, abad ke-21, fokus pelaku bisnis mulai berganti kepada peranan dewan direksi (board of directors-BOD) dan dewan komisaris (untuk  sistem two-tier governance). Bagaimana peran dewan tersebut dalam pengelolaan perusahaan. Hal tersebut dikarenakan karena BOD lah yang bertanggung jawab kepada pemilik perusahaan (pemegang saham), dan anggota stakeholders lainnya.  Fokus pada corporate governance pada abad 21 ini antara lain dipicu oleh banyaknya skandal bisnis yang merugikan banyak pihak seperti Enron, Arthur Andersen, World-com, HIH Insurance, dll.

Esensi dari corporate governance ialah tentang pelaksanaan kekuasaan dalam perusahaan. Seperti telah disinggung, hal ini bukanlah topik baru. Adam Smith di tahun 1776 telah membahas isu pelaksanaan kekuasaan tersebut. Ia menyatakan ” The directors of companies, being managers of other people’s money than their own, it cannot well be expected that they should watch over it with the same anxious vigilance with which the partners in a private copartnery frequently watch over their own“.  Direktur suatu perusahaan, yang mengelola uang orang lain bukan uang miliknya sendiri, sulit untuk diharapkan akan menjaga uang tersebut dengan baik. Akan ada konflik kepentingan antara manajemen dan pemilik modal (pemegang saham).

Berikut sekilas evolusi perkembangan topik corporate governance.

1. Perkembangan di awal abad ke-20

2. Perkembangan di era tahun 1970-an

3. Perkembangan di era tahun 1980-an

4. Perkembangan di era tahun 1990-an

5. Perkembangan di era tahun 2000-an (abad ke-21).

Point 1. Awal abad ke-20

Di tahun 1932, peneliti dari US, Berle dan Means membahas tentang semakin besarnya pemisahan antara manajemen dan pemilik perusahaan (pemegang saham).  Ini adalah paper klasik pertama di bidang corporate governance dan salah satu paper yang paling banyak dikutip dalam penelitian corporate governance saat ini. Di paper tersebut Berle dan Means memperingatkan pemerintah akan adanya konflik kepentingan antara negara dengan perusahaan, kekuasaan politik vs. kekuasaan ekonomi.  Mereka memperingatkan pemerintah US jika perusahaan akan selalu berusaha menghindari aturan2 yang dibuat negara dan dapat menjadi organisasi sosial yang dapat sejajar dan bahkan lebih berpengaruh dibandingkan negara. Perlu diingat bahwa US di tahun 1929 mengalami depresi ekonomi. Paper ini mengilhami didirikannya SEC (Stock Exchange Commission) di tahun 1934.

Point 2. Tahun 1970-an

Ada tiga perkembangan penting dalam pemikiran corporate governance di masa ini.

Pertama, di US semakin disadari pentingnya anggota BOD independent (di Indonesia paralel dengan anggota dewan komisaris independen) dan pentingnya komite audit. Tahun 1972 Pfeffer mengemukakan pentingnya hubungan antara organisasi, lingkungan dan kekuasaan BOD. Aurbach (1973) menulis tentang komite audit sebagai institusi perusahaan baru. Mautz dan Neumann (1977) mendiskusikan pentingnya komite audit di bawah BOD. Di tahun 1972, SEC mensyaratkan komite audit terdiri dari independen non-eksekutif BOD.

Kedua, di Eropa semakin meluasnya penggunaan sistem two-tier (penjelasan tentang two-tier telah di bahas di posting sebelumnya). European Economic Commission di tahun 1972 mempromosikan penggunaan sistem two-tier tersebut, menggantikan pendekatan one-tier system. Ide ini ditolak di Inggris, karena dalam sistem ini terdapat perwakilan dari karyawan (employee/labour) yang duduk di dewan komisaris.

Ketiga semakin intens-nya debat tentang peranan BOD terhadap stakeholder lainnya, baik di US maupun di Eropa. BOD diharapkan tidak hanya bertanggung jawab terhadap pemegang saham, namun juga terhadap pelanggan, pemasok, karyawan, komunitas lokal dan negara. Di Inggris, Lord Watkinson (1973) melaporkan perluasan tanggung jawab dari perusahaan publik Inggris. Fogarty (1975) mendiskusikan tanggung jawab perusahaan  dan partisipasi stakeholder. Jensen dan Meckling (1976) meragukan apakah perluasan tanggung jawab BOD tersebut dapat bertahan. Ini adalah cikal-bakal dari apa yang disebut dengan CSR (corporate social responsibility) saat ini. Di Indonesia, CSR malah menjadi suatu keharusan bukan lagi anjuran. Dengan sendirinya, keraguan Jensen dan Meckling tidak terbukti🙂

Bersambung…

sumber: Bob Tricker. 2009. Corporate Governance: Principles, Policies and Practices. Oxford University Press.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s